Halaman

    Social Items

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan



          Yanbau Media,- Program Pengabdian dan Dakwah Santri atau disebut dengan PPDS menjadi kegiatan pokok yang harus dituntaskan dengan baik oleh seluruh santri tingkat akhir (kelas 3) di Pondok Pesantren Mamba’ul Bayan NW. Program ini merupakan salahsatu syarat kelulusan bagi santri di pondok pesantren Mamba’ul Bayan NW.


Program ini berlangsung selama 10 hari dimulai sejak tanggal 10 s/d 20 Januari 2021 dimana santri kelas 3 yang berjumlah 21 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dikirim ke kecamatan Bayan sebanyak 14 orang dan kelompok ke dua dikirim ke kecamatan Kayangan sebanyak 8 orang. Dari sinilah, santri dibagi kembali menjadi beberapa kelompok yang disebarkan ke berbagai desa.


Melibatkan santri di masyarakat, dengan ikut kegiatan keseharian mereka agar mendapat pengalaman dan keterampilan hidup, adalah hal yang sangat penting bagi santri Pondok Pesantren Mamba’ul Bayan NW, pasalnya progam PPDS ini mengharuskan santri untuk terjun langsung di masyarakat secara aktif.


“PPDS bukan kegiatan ‘mengajari’ masyarakat, tapi kegiatan wajib santri akhir untuk bermasyarakat. Kalaupun kalian ada waktu untuk mengajar ‘ngaji’ anak-anak di TPA, Diniyah, Majlis Ta’lim atau kegiatan keterampilan lainnya, itu hanya memberi pengalaman bagi santri”, ungkap Ust. Kamah Yudiarto, QH., S.Sy., S.Sos. selaku pimpinan Ponpes Mamba’ul Bayan NW dalam acara pelepasan peserta PPDS (Ahad,10/01/2021).


Santri yang mengikuti program PPDS ini dibimbing langsung oleh para da’i dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Dalam kegiatan keseharian, para santri dibuatkan program-program serta jadwal oleh para pembimbing dari bangun tidur sampai tidur kembali agar pelaksanaan program PPDS ini berjalan dengan baik.


Mulai jam 03.00 sudah bangun untuk tahajjud, mengaji dan persiapan sholat subuh. Setelah melaksanakan sholat subuh berjama’ah, santri dilatih untuk berceramah. Setelah selesai ceramah, santri mengikuti program Mudzakarah (belajar) ilmu agama dari para da’i sampai jam 6 pagi. Jam 09.00-11.30 untuk program Ta’lim kemudian dilanjutkan dengan persiapan dan sholat dzuhur. Pukul 15.00 persiapan dan sholat ashar berjama’ah. Pukul 17.30 melakukan kegiatan “Jaulah” atau berkeliling kerumah masyarakat untuk mengajak sholat magrib berjama’ah di masjid. Setelah sholat magrib dilanjutkan dengan latihan ceramah di depan jama’ah yang kemudian dilanjutkan dengan sholat isya berjama’ah. Pukul 21.00-23.00 diisi kegiatan Mudzakarah tentang amalan-amalan dan do’a-do’a.


“Santri memang kita wajibkan untuk mengikuti program-program dari bangun tidur sampai tidur kembali guna melatih kedisiplinan, mental dan kesabaran mereka” ungkap salah seorang da’i yang menjadi pembimbing di salah satu kelompok PPDS, (Jum’at,16/1/2021).


Baik dan terarahnya kegiatan PPDS ini, karena santri akhir telah dibekali sebelum berangkat, pembekalann diberikan dengan beragam pengetahuan dan keterampilan seperti Penguatan Metode Pengajaran Al-Qur’an, Pembekalan Pengajaran, Pemahaman kultur dan budaya masyarkat (aspek sosiologi) yang telah di ajarkan selama di pesantren.


Program PPDS ini menitikberatkan pemberian pengalaman mengajar dan bermasyarakat bagi santri akhir. Mengajar atau mendidik serta menyampaikan secercah ilmu yang telah didapat menjadi ‘main goal’ PPDS karena dengan mengajar dan berbagi ilmu yang telah dipelajari santri, maka akan semakin melekat dan dipahami.



Yanba'u Media (27/01/2021)

(Yunia Lastari, Fitria Wulandari, Arsinun)

Dengan program PPDS, Santri Mamba'ul Bayan siap terjun di masyarakat!


PONPES MAMBA'UL BAYAN NW -, Telah mengirimkan 12 Santri untuk belajar bahasa inggris ke kampung inggris, pare - kediri - jawa timur. Acara pemberangkatan tersebut dilaksakan pada tanggal 13 januari 2021 yang bertempat di halaman Ponpes Mamba'ul Bayan NW.

Pimpinan pondok pesantren, Ustadz Kamah Yudiarto, QH., S.Sy., S.Sos. melepas keberangkatan santri menuju pare yang didampingi oleh para pengasuh Pondok Pesantren, "Hari ini 12 santri berangkat menuju kediri, jawa timur untuk memperdalam bahasa inggris selama 3 (tiga) bulan. Kelak mereka akan diperbantukan menjadi leader dalam pengembangan bahasa di Mamba'ul Bayan NW. Semoga niat ini mendapat Ridho dari Allah, dan tercapai segala hal yang diniatkan" Ungkap beliau.

12 santri yang dikirim untuk memperdalam bahasa inggris ini terdiri dari 2 (dua) orang siswa SMP Plus Maba'ul Bayan dan 10 (sepuluh) orang dari MA Plus Maba'ul Bayan NW. Tangisan dan pelukan hangat dari para orang tua wali dan para pengasuh mengiringi keberangkatan para santri.

Sebenarnya ini adalah pemberangkatan para santri ke-2 untuk mengikuti proses belajar bahasa inggris ke pare. Terakhir pada tahun 2018 sejumlah 4 orang.



Sedikit mengenai kampung inggris pare ini merupakan nama panggilan dari gabungan desa Tulungrejo dan Pelem yang ada di kecamatan Pare - kabupaten Kediri - Jawa Timur. Ada lebih dari 100 lembaga kursus bahasa yang ada di kampung inggris pare. Tidak hanya kursus bahasa inggris saja, namun juga tersedia lembaga kursus lainnya yang membuka program kursus bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea, dan Bahasa Perancis.

Ponpes Mamba'ul Bayan NW, Kirim 12 Santri ke Kampung Inggris (Pare) Jawa Timur

 Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda


المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف (رواه مسلم)


Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”.(HR.Muslim)


Kata al-qawi (kekuatan) memiliki banyak arti. Di dalam al-Qur’an ditemukan beberapa makna al-qawi, di antaranya:


Pertama, Kekuatan fisik, seperti disebutkan dalam surat ar-Rum [30]: 54


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ


Artinya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”


Dalam ayat di atas, kata quwat berarti kekuatan fisik. Sehingga, berdasarkan hadits di atas seorang mukmin yang kuat secara fisik lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah secara fisik. Sebab, seorang mukmin yang fisiknya lebih kuat, tentu bisa melakukan berbagai macam akatifitas secara baik dan sempurna dibandingkan seorang mukmin yang lemah fisiknya. Shalat seorang yang memiliki fisik yang kuat agaknya lebih sempurna dari shalat seorang yang fisiknya lemah. Dan tentu saja Allah lebih menyukai amal yang dilakukan seorang hamba secara sempurna. 


Dua, kekuatan tekad dan iradah, seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah [2]: 63


وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا ءَاتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa".”


Kata quwat dalam ayat di atas bermakna tekad. Sebab, salah satu sikap bani Israel yang selalu dicela Allah, bahwa mereka tidak pernah memiliki ketuguhan hati dan tekad dalam menjaga dan memenuhi janji yang telah mereka buat. 


Dengan demikian, seorang mukmin yang kuat tekad dan kemauannya adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah tekad dan kemauannya. Sebab, seorang yang memiliki keteguhan tekad bisanya kan menjadi orang yang sabar dan optimis. Dan tentu saja seorang hamba yang memiliki kesabaran dan optimisme yang lahir dari kekuatan tekad, lebih disukai dan dicintai oleh Allah swt. 


Tiga, kekuatan amanah dan kecerdasan, seperti disebutkan dalam surat an-Najm [53]: 1-3


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى(3)إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى(4)عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى(5)


Artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya (3). Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (4). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat (5).”


Kata al-quwa dalam ayat di atas dipakai untuk menyebutkan malaikat Jibril. Malaikat Jibril adalah makhluk yang sangat cerdas sekaligus jujur. Betapa tidak, setiap kali ia diperintah menyampaikan wahyu, ia tidak pernah minta diulang dan melupakan apa yang telah diterimanya untuk kemudian disampaikan kepada rasul, tanpa pernah satu huruf pun kurang dari apa yang telah diterimnya dari Allah swt. 



Sehingga, seorang mukmin yang kuat kecerdasannya dan memiliki kekuatan dalam menerima dan menyampaikan amanah adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah kecerdasan dan kejujurannya. Sebab, kekuatan intelektual dan kejujuran akan membawa mansuai memilki kedudukan yang tinggi, baik di hadapan Allah maupun di hadapan makhluk. Bukankah nabi Musa as. diangkat menjadi pegawai yang diserahi tugas mengelola kekayaan nabi Syu’aib as dan bahkan kemudian dijadikan menantu olehnya, karena memiliki kekuatan kecerdasan dan kejujuran (Baca QS. Al-Qasash [28]: 26). Begitu juga nabi Yusuf as. diangkat menjadi menteri dan pejabat tinggi di Mesir, juga karena memiliki kekuatan kecerdasan dan kejujuran (Baca. QS Yusuf [12]: 54). 


Empat, kekuatan dalam melawan musuh, seperti dalam surat al-Anfal [8]: 60


وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ


Artinya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”


Dengan demikian, seorang mukmin yang memiliki kekuatan dan keteguhan dalam melawan musuh agama adalah lebih baik dan lebih dicintai Allah swt. daripada seorang mukmin yang lemah dalam menghadapi musuh. Bukankah semua sahabat yang ikut berperang pada peperangan Badar, mendapat tempat yang sangat tinggi di hadapan Allah dibandingkan sebagian sahabat yang ikut para perang Uhud, terutama para sahabat yang tidak memiliki kekuatan iman dan keteguhan hati, sehingga mereka lalai terhadap pesan Rasualullah saw?


Adapun cara agar memperoleh kekuatan dan untuk tatap kuat, adalah selalu meminta ampun terhadap setiap dosa dan kesalahan dan selalu bertaubat kepada Allah swt. Begitulah caranya agar kekuatan tumbuh dalam diri seseorang, jika dia jauh dari dosa dan banyak melakukan amal kebajikan. Seperti disebutkan dalam surat Hud [11]: 52


وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا


Artinya: “Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."

Mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah

 Rukun Iman adalah tiang-tiang pondasi keimanan dari seorang muslim, apabila ia memiliki dan mengamalkan rukun iman, maka dia akan memiliki keimanan yang kuat. Dan apabila ia mengabaikan rukun iman dalam hidupnya, maka ia akan dengan mudah diguncang hatinya dengan berbagai masalah dan kegelisahan dalam keimanan.


Terdapat enam rukun iman, yang didasarkan pada ayat-ayat Jibril pada kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab. Berikut keenam rukun iman tersebut:


1- Iman kepada Allah

2- Iman kepada Malaikat

3- Iman kepada kitab-kitab Allah

4- Iman kepada rasul

5- Iman kepada hari akhir

6- Iman kepada qodho dan qodar


Rukun iman telah dicantumkan atau disebutkan di dalam al qur’an pada surat Al Baqarah ayat 177 yang artinya: “Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” Disini disebutkan terdapat lima hal yang mampu menjadi dasar keimanan atau sumber kebaikan dalam islam.


Iman menurut bahasa Arab artinya percaya. Sedangkan menurut Al-Jurjani dalam At-Takrifat, secara bahasa, iman adalah membenarkan dengan hati. Sementara menurut syariat, iman adalah meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan lisan. Adapun 'berdasarkan dalil' artinya keimanan harus dibangun di atas dalil, bukti, dan argumen yang kuat.



Keyakinan dalam hati dan pengakuan lisan itu harus sejalan. Menurut sejumlah ulama, dikutip dari laman Nahdlatul Ulama, perbuatan bukan bagian dari iman. Karena perbuatan itu timbul dari iman itu sendiri. Iman dan Islam itu tidak dapat dipisahkan. Maka dari itu, jika seorang yang mengaku Islam tapi tidak iman, berarti ia tidak akan mendapatkan faedah di akhirat nanti. Begitu juga sebaliknya, jika ia beriman tetapi tidak Islam, dalam agama Islam menyebutkan ia tidak akan selamat dari siksa neraka yang amat pedih.


Berikut Penjelasan 6 Rukan Iman:


1- Iman Kepada Allah : Iman kepada Allah menjadi urutan pertama dan poin terpenting dalam Islam. Allah SWT maha besar, Dia pencipta semua yang ada di alam semesta ini. Dia pula yang menguasai segala isi alam semesta, akhirat, dan lainnya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT, hanya Allah yang maha Esa, tidak ada duanya. Meyakini Allah tidak hanya melalui kata-kata, tapi juga dibutuhkan bukti. Dari amal perbuatan, melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semua makhluk diwajibkan menyembah Allah, tak hanya manusia semata, melainkan hewan, tumbuhan, jin, hingga malaikat.


2- Iman Kepada Malaikat : Allah dalam memberikan tugas untuk mengatur seluruh isi alam, melalui malaikat-malaikatnya. Beriman dan meyakini malaikat sebagai utusan Allah menjadi rukun iman kedua.  Para malaikat bertugas sebagai perantara Allah juga tertuang pada Alquran surah An Nahl ayat 2, yang berarti “Allah menurunkan para malaikat untuk membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Allah kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”.



3- Iman Kepada Kitab-kitab-Nya : Allah menuliskan ajaran-Nya melalui perantara wahyu yang diturunkan lewat malaikat. Wahyu tersebut tertuang pada kitab-kitab ajaran Islam. Kitab itu diturunkan kepada para Rasul, untuk kemudian dilanjutkan ke seluruh umat Islam. Agar dapat diamalkan seluruh umat sampai kiamat kelak. Kitab-kitab ini sebagai pedoman dan pegangan umat di kala para rasul sudah wafat. Dengan berpedoman teguh pada kitab-kitab Allah, niscaya manusia bisa selamat dari siksa api neraka. Segala pertanyaan dan aturan Islam sudah tertuang di dalam kitab-kitab Allah tersebut. Adapun kitab yang perlu diimanin oleh umat Islam terdiri 4 (empat).


4- Iman Kepada Nabi Dan Rasul : Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pada Nabi dan Rasul keempat kitab suci, yaitu Taurat, Zabur, Inj…

Makna Rukun Iman dan Urutannya


Islam itu ibarat sebuah bangunan yang kokoh, dimana bangunan tersebut akan berdiri tegak dengan adanya tiang-tiang atau pondasi yang kuat. Tiang-tiang atau pondasi tersebut adalah lima Rukun Islam. Sebagai umat Muslim kita tentu tahu kalau Hakikat Muslim yang paling penting adalah Lima Rukun Islam. Rukun Islam merupakan suatu hal yang penting dipahami oleh umat Islam semenjak dini. Hal itu karena satu di antara syarat sah menjadi seorang muslim adalah jika telah mengamalkan rukun Islam. Lima Rukun Islam adalah lima kewajiban yang harus dipenuhi setiap Muslim untuk menjalani kehidupan yang baik dan bertanggung jawab.




Nabi Muhammad SAW pernah bersabdah "Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat laa ilaaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, menegakkan salat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan". (HR. Al-Bukhar dan Muslim)


Berikut 5 (lima) Pilar tersebut dan maknanya: 


1- Membaca 2 (Dua) Kalimat Syahadat  : "Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah" Artinya "Saya bersaksi tiada Tuhan Selain Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah". Dengan melafalkan dua kalimat syahadat tersebut, menandakan seseorang yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang pantas disembah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.

Seorang muslim juga harus meyakini Nabi Muhammad bukanlah Tuhan untuk disembah, melainkan utusan Allah SWT di dunia untuk menyempurnakan agama Islam. Sebagai seorang muslim yang telah melafalkan dua kalimat syahadat, seseorang diwajibkan untuk menaati perintah dan anjuran Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.


2- Shalat 5 (Lima) Waktu  : Disebut sebagai salat lima waktu karena salat tersebut dilakukan dalam lima waktu yang berbeda dalam satu hari dan memiliki hukum yang wajib untuk dilakukan. Salat wajib dikerjakan sesuai waktu yang telah ditetapkan, mulai salat subuh yang dibatasi sampai terbitnya matahari hingga salat isya pada malam hari.


Jumlah Rakaat Salat Wajib:


Salat subuh - berjumlah 2 rakaat.

Salat zuhur - berjumlah 4 rakaat.

Salat asar - berjumlah 4 rakaat.

Salat maghrib - berjumlah 3 rakaat.

Salat isya - berjumlah 4 rakaat.

Selain itu ada salat yang memiliki hukum sunah, pengertiannya adalah jika salat ini dilakukan akan memberikan pahala dan kebaikan, dan jika tidak lakukan tidak apa-apa.


3- Puasa Pada Bulan Ramadhan : Puasa adalah kegiatan yang dilakukan seorang umat muslim, di mana mereka menahan untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman selama seharian penuh. Tidak hanya menahan lapar dan haus, selama berpuasa di bulan Ramadan, seorang muslim juga harus menahan segala hawa nafsu dan amarah yang terkadang datang. Selain mewajibkan seorang muslim melakukan puasa, pada bulan Ramadan adalah bulan yang dipenuhi berkah sehingga apabila umat muslim melakukan kebaikan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.


4-  Membayar Zakat  : Membayar zakat merupakan suatu kegiatan yang wajib dilakukan bagi setiap umat muslim yang dirasa mampu untuk melakukannya. Seperti halnya puasa dan salat, zakat juga ada dua tipe, yaitu zakat wajib dan sunah. Zakat wajib biasa disebut zakat fitrah dan zakat sunah adalah zakat mal atau zakat yang bergantung pada penghasilan yang didapatkan seorang muslim. Zakat fitrah dibayarkan pada akhir bulan Ramadan dan sebelum memasuki Hari Raya Idulfitri, sedangkan zakat mal dibayarkan berdasarkan pendapatan yang diperoleh setiap tahunnya. Zakat bermanfaat dalam membantu orang yang kurang mampu dan kurang beruntung sehingga mereka dapat terbantu dalam hal sandang dan pangan.


5- Naik Haji Bagi Yang Mampu : Menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci merupakan kewajiban umat muslim yang mapan dan mampu, baik lahir maupun batin. Dikatakan wajib bagi orang yang telah mampu karena perjalanan ke Tanah Suci membutuhkan banyak persiapan yang memakan biaya dan kesiapan hati yang matang. Ibadah haji dilakukan setiap tahunya pada bulan haji atau bulan Zulhijah. Umat muslim tetap dapat mengunjungi Tanah Suci selain pada bulan Zulhijah untuk menjalankan ibadah umrah.

Memahami Makna 5 Rukun Islam